KOP DI1
Breaking News
amex

amex

Kamis, 17 April 2014 02:56

Ketua KPUD Buka-Bukaan Soal Manipulasi

SuaraAMBON, AE— Setelah pemungutan suara, pemilih tak lagi berguna. Kini pemegang bola ada dipenyelenggara pemilu di tingkat paling bawah PPS dan PPK. Di tingkat ini transaksi jual beli suara paling mungkin terjadi, Komisi Pemilihan Umum Daerah tak menampik ada kompromi penyelenggara dan calon anggota legislatif dan partai politik untuk mendongkrak suara saat rekapitulasi.

Karena dia (caleg -red) sudah tidak lagi memberikan ruang kepada pemilih. Artinya dengan tujuan mendapatkan sekian puluh suara saja, parpol atau caleg ini hanya membutuhkan kerja dari penyelenggara itu, meski tidak banyak namun penyelenggara bisa mendongkrak suara. Kalau dengan pemilih tentu membutuhkan banyak orang dan tidak efektif,” ungkap Ketua KPUD Maluku, Musa Toekan kepada Ambon Ekspres, kemarin.

Untuk mendapatkan suara yang besar, parpol dan caleg tidak lagi memanfaatkan masyarakat pemilih sebagai senjata, namun lebih memilih langsung ke penyelenggara, karena bisa berjalan efektif dan ada kepastian. “Ini pola yang kerap dilakukan,” kata Toekan.

Kondisi ini terjadi, kata Toekan, karena baik Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) maupun Panitia Pemungutan Suara (PPS), minim integritas dalam melaksanakan tugas. Kemudian adanya intervensi berlebihan dari parpol dan caleg.

Banyak modus dongrak suara yang dilakukan oleh KPPS dan PPS selain mencoblos sisa surat suara. Misalnya dalam surat suara yang dicoblos caleg Si A, tapi yang dibaca oleh KPPS itu caleg Si B. Dan itu ada terjadi di lapangan karena caranya gampang saja dan kalau sudah diketahui maka pungut ulang.

“Jadi kami tegaskan penyelenggara ditingkat bawah yang melakukan pelanggaran akan kami evaluasi dan digantikan. Mereka-mereka tidak lagi dipakai dalam pemilihan presiden mendatang. Memang tidak semua, tetapi  yang diketahui saja berdasarkan laporan dari Panwaslu. Sampai hari ini kami belum memastikan berapa jumlah KPPS atau PPS yang akan dipecat, karena kami akan melihat dan mengkaji dulu rekomendasi Panwaslu,”terang Toekan dengan nada kesal.

Ini juga, menurut Toekan, yang menjadi salah satu variabel terjadinya Pungut Suara Ulang. KPU sudah meminta penjelasan secara detail dari Panwaslu Kecamatan maupun kabupaten/kota dalam rekomendasi yang dikeluarkan. ” Ini supaya kita bisa ketahui apa jenis temuan dari panwaslu. Misalnya seseorang mencoblos lebih dari satu kali, itu tidak bisa dilakukan PSU. Tetapi harus ambil tindakan pidana, bukan administrasi pemilu,” jelasya.

Dia mengakui, lemahnya integritas menjadi kelemahan utama bagi penyelenggara dalam upaya menciptakan pemilu yang berkualitas, jujur dan adil. “Itulah kelemahan dari penyelenggara pemilu ditingkat bawah itu sendiri terkait dengan integritasnya yang memang tidak bagus. Tapi sebetulnya PSU ini bukan saja terjadi karena pelanggaran penyelenggara semata, ada juga pelanggaran yang dilakukan oleh pemilih dan saksi, maka sangsi tidak diberikan kepada KPPS atau PPS,” akuinya.

Anggota Bawaslu Provinsi Maluku, Lusia Peilouw mengatakan, sampai dengan kemarin tidak ada pelanggaran yang bersifat fatal bagi caleg maupun partai politik. Namun pelanggaran untuk penyelenggaraan pemilu sudah berdampak fatal.

“Sekarang ini semua laporan dan dugaan pelanggaran sedang ditangani panwaslu kabupaten/kota. Kalau pelanggaran terkait penyelenggaraan yang fatal itu yang berdampak pada tahapan, termasuk PSU. Kalau fatal buat peserta pemilu, pasti yang sampai berakibat pada diskualifikasi. Tentang ini yang ada sekarang adalah dugaan money politics di masa tenang dan saat pemungutan suara. Ada 2 kasus di Kabupaten Seram Bagian Barat,”kata Lusia, kemarin.

Dikatakan, pelanggaran yang dilakukan penyelenggara akan direkomendasikan untuk mendapatkan teguran dan atau pemberhentian Dewan Kehormatan Pemilu (DKPP). “Pelanggaran-pelanggaran yang terbukti dilakukan oleh penyelenggara pemilu berupa pelanggaran kode etik akan kita teruskan ke DKPP untuk ditindak sesuai aturan yang berlaku,”tandasnya.(CR2)

Kamis, 17 April 2014 02:59

AMBON,AE— Tarik ulur kepentingan dalam penetapan Sekretaris provinsi, berdampak pada terhambatnya rencana perombakan birokrasi pemerintahan baru Said Assagaff-Zeth Sahuburua. Banyak pertimbangan juga diyakini membuat penetapan siapa  sekprov tertunda.

“Saya tidak menaruh kecurigaan kalau  Pak gubernur  mengulur waktu pembenahan birokrasi.  Memang  tarik ulur kepentingan  itu ada, tapi saya menilai ini tidak menjadi penyebab utama lambannya pembenahan birokrasi. Saya yakin pak gubernur sedang mempertimbangkan yang  terbaik sebelum melakukan pembenahan,” kata pengamat politik Universitas Pattimura Ambon, Wahab Tuanaya, Rabu (16/4).

Ketua Program Study Ilmu Pemerintahan Fisip Unpatti ini menegaskan, gubernur yang  sudah cukup lama  berkarier di birokrasi pemerintahan, pasti memiliki pengalaman dan kemampuan yang baik untuk menata birokrasi yang efektif.

“Dengan pengalaman dan kemampuan yang dimiliki, gubernur pasti ingin melakukan perimbangan yang matang dan rasional, sehingga mereka yang akan diangkat pada jabatan tertentu, haruslah memenuhi kualifikasi kemampuan yang dibutuhkan oleh jabatan tersebut,” terangnya.

Soal sekprov, kata Tuanaya, figurnya tidak harus dari anak daerah Maluku. Gubernur harus lebih mempertimbangkan kemampuan. “Siapa pun dia, yang penting punya kemampuan untuk menjadi sekprov dan memenuhi syarat administrasi,” ujarnya.
Dimintai pendapatnya tentang kinerja SKPD dilingkup Permprov Maluku hingga saat ini, Tuanaya mengaku kurangnya transparansi dalam implementasi  program pembangunan, membuat dia susah mengukur.  

Akademisi Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) Josephus Noya menyampaikan penilain yang sama. “ Saya menilai, keterlambatan mungkin karena gubernur ingin lebih matang dalam mempertimbangkan siapa-siapa  yang akan diangkat, agar hasil pembenahan pun bisa menjawab kebutuhan birokrasi,” kata  dia, Rabu (16/4).

Akan menjadi lebih efektif, bila Assagaff saat ini sedang melakukan pertimbangan yang matang  untuk mendapatkan figur  PNS yang memiliki kemampuan. Namun, bila belum dilakukannya pembenahan ini akibat adanya tarik ulur kepentingan, Noya mengakui hasil pembenahan nanti akan tidak berkualitas, bahkan dapat menimbulkan masalah kedepan.

“Kalau soal kepentingan, apa lagi kepentingan partai pendukung Pak Bib dan Pak Ety  saat pilgub, saya rasa tidak bisa dihindari. Mereka juga pasti punya kepetingan, tidak terkecuali dalam perombakan birokrasi nanti,” imbuhnya.
Namun, Noya tidak dapat memastikan, bahwa kepentingan partai pendukung tersebut yang menjadi penghambat rencana pembenahan birokrasi ini.    

Dimintai penilainnya tentang SKPD dilingkup Pemprov Maluku yang harus segera di benahi,  dosen  Fisip UKIM ini menegaskan, sejumlah SKPD yang harus diberikan perhatian serius oleh Gubernur Maluku, yakni Dinas Pariwisata dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Maluku.

“Saya nilai Dinas Pariwisata masih lemah, terutama dalam pelyanan publik maupun pelaksanaan program pengembangan potensi wisata di daerah ini. Sementara Dinas Dikpora Maluku, harus di benahi agar menjadi lebih baik, karena dinas inilah yang menyiapkan Sumber Daya Manusia Maluku kedepan,” ujarnya.

Ditegaskan, pentingnya pembenahan birokrasi pada Dinas Dikpora Maluku, juga  dikarenakan,  dinas yang saat ini di  pimpin Semy Risambessy sedang di soroti oleh publik terkait kasus  dugaan tindak pidana korupsi dalam proyek pengadaan Multimedia  dan  dugaan tindak pidana korupsi dalam  proyek Lomba Kompetensi Siswa (LKS). (CR3)

Kamis, 17 April 2014 02:36

AMBON,AE— Tarik ulur kepentingan dalam penetapan Sekretaris provinsi, berdampak pada terhambatnya rencana perombakan birokrasi pemerintahan baru Said Assagaff-Zeth Sahuburua. Banyak pertimbangan juga diyakini membuat penetapan siapa  sekprov tertunda.

“Saya tidak menaruh kecurigaan kalau  Pak gubernur  mengulur waktu pembenahan birokrasi.  Memang  tarik ulur kepentingan  itu ada, tapi saya menilai ini tidak menjadi penyebab utama lambannya pembenahan birokrasi. Saya yakin pak gubernur sedang mempertimbangkan yang  terbaik sebelum melakukan pembenahan,” kata pengamat politik Universitas Pattimura Ambon, Wahab Tuanaya, Rabu (16/4).

Ketua Program Study Ilmu Pemerintahan Fisip Unpatti ini menegaskan, gubernur yang  sudah cukup lama  berkarier di birokrasi pemerintahan, pasti memiliki pengalaman dan kemampuan yang baik untuk menata birokrasi yang efektif.

“Dengan pengalaman dan kemampuan yang dimiliki, gubernur pasti ingin melakukan perimbangan yang matang dan rasional, sehingga mereka yang akan diangkat pada jabatan tertentu, haruslah memenuhi kualifikasi kemampuan yang dibutuhkan oleh jabatan tersebut,” terangnya.

Soal sekprov, kata Tuanaya, figurnya tidak harus dari anak daerah Maluku. Gubernur harus lebih mempertimbangkan kemampuan. “Siapa pun dia, yang penting punya kemampuan untuk menjadi sekprov dan memenuhi syarat administrasi,” ujarnya.
Dimintai pendapatnya tentang kinerja SKPD dilingkup Permprov Maluku hingga saat ini, Tuanaya mengaku kurangnya transparansi dalam implementasi  program pembangunan, membuat dia susah mengukur.  

Akademisi Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) Josephus Noya menyampaikan penilain yang sama. “ Saya menilai, keterlambatan mungkin karena gubernur ingin lebih matang dalam mempertimbangkan siapa-siapa  yang akan diangkat, agar hasil pembenahan pun bisa menjawab kebutuhan birokrasi,” kata  dia, Rabu (16/4).

Akan menjadi lebih efektif, bila Assagaff saat ini sedang melakukan pertimbangan yang matang  untuk mendapatkan figur  PNS yang memiliki kemampuan. Namun, bila belum dilakukannya pembenahan ini akibat adanya tarik ulur kepentingan, Noya mengakui hasil pembenahan nanti akan tidak berkualitas, bahkan dapat menimbulkan masalah kedepan.

“Kalau soal kepentingan, apa lagi kepentingan partai pendukung Pak Bib dan Pak Ety  saat pilgub, saya rasa tidak bisa dihindari. Mereka juga pasti punya kepetingan, tidak terkecuali dalam perombakan birokrasi nanti,” imbuhnya.
Namun, Noya tidak dapat memastikan, bahwa kepentingan partai pendukung tersebut yang menjadi penghambat rencana pembenahan birokrasi ini.    

Dimintai penilainnya tentang SKPD dilingkup Pemprov Maluku yang harus segera di benahi,  dosen  Fisip UKIM ini menegaskan, sejumlah SKPD yang harus diberikan perhatian serius oleh Gubernur Maluku, yakni Dinas Pariwisata dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Maluku.

“Saya nilai Dinas Pariwisata masih lemah, terutama dalam pelyanan publik maupun pelaksanaan program pengembangan potensi wisata di daerah ini. Sementara Dinas Dikpora Maluku, harus di benahi agar menjadi lebih baik, karena dinas inilah yang menyiapkan Sumber Daya Manusia Maluku kedepan,” ujarnya.

Ditegaskan, pentingnya pembenahan birokrasi pada Dinas Dikpora Maluku, juga  dikarenakan,  dinas yang saat ini di  pimpin Semy Risambessy sedang di soroti oleh publik terkait kasus  dugaan tindak pidana korupsi dalam proyek pengadaan Multimedia  dan  dugaan tindak pidana korupsi dalam  proyek Lomba Kompetensi Siswa (LKS). (CR3)

Kamis, 17 April 2014 02:36

Lima Parpol Rebut 4 Kursi DPR RI

Musa ToekanAMBON,AE— Komisi Pemilihan Umum Provinsi Maluku memastikan, rekapitulasi perhitungan suara ditingkat kecamatan selesai tanggal 19 April, meski masih terjadi Pemungutan Suara Ulang (PSU) di sejumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS).
“Rekapitulasi ditingkat kecamatan selesai tanggal 19 April. Sementara untuk penetapan anggota DPRD kabupaten/kota, provinsi dan DPR RI sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan dalam peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) nomor 21, tahun 2013 tentang Tahapan, Program dan Jadwal penyelenggaraan pemilihan umum anggota DPR, DPD dan DPRD Provinsi tidak mengalami perubahan,” kata Ketua KPU Provinsi Maluku Musa Toekan kepada Ambon Ekspres, Rabu (16/4).

Toekan mengatakan, pada prinsipnya KPU tetap berusaha maksimal menuntaskan tahapan pemilu legislatif sesuai waktu yang telah ditetapkan dalam PKPU. Kata dia, rekapitulasi tingkat kabupaten dimulai tanggal 19-21 April dan pengumumannya tanggal 22 April. Kemudian rekapitulasi penghitungan suara tingkat provinsi dilaksanakan tanggal 22-23 April. Sedangkan pengumuman hasil rekapitulasi penghitungan suara, 23-25 April.

“Tapi mungkin bisa terjadi keterlambatan penetapan hasil pemilu ditingkat kabupaten/kota karena ada pemungutan suara ulang (PSU) di beberapa daerah. Namun pada prinsipnya KPU sedang berusaha secara maksimal untuk melaksanakan PSU di berbagai TPS itu, sekalipun rekomendasi dari Panitia Pengawasan Pemilu (Panwaslu) itu terlambat,”katanya.

Sementara itu, sampai tadi malam, lima parpol terus saling kejar angka untuk merebut jatah empat kursi di DPR RI. PDIP, Golkar, Gerindra, Nasdem, dan PKB, dikabarkan masuk lima besar peraih suara terbanyak untuk mendapatkan masing-masing satu kursi, dan satu parpol sudah pasti tak akan kebagian.

PDIP sampai tadi malam, Mercy Barends, dan Alex Litaay saling kejar suara. Berdasarkan data Golkar, Hamzah Sangadji masih teratas, disusul Edison Betaubun, Olivia Latuconsina, dan Marlen Petta. Namun dari akumulasi suara, parpol ini berpeluang besar meraih satu kursi setelah mencapai 90 ribu suara.

Gerindra sendiri juga tak kalah garangnya. Politisi muda, Amrullah Amri Tuasikal mampu meraih suara terbanyak di Daerah pemilihan pemilih terbanyak kedua setelah Kota Ambon, Maluku Tengah. Banyak memprediksikan anak Abdullah Tuasikal, politisi Golkar ini bisa menembus 100 ribu suara.

Nasdem juga tak kalah banyak suara. Arbab Paproeka, Rosita Usman, dan Kisman punya akumulasi suara besar. Sampai tadi malam total suara parpol ini sudah mencapai 70 ribu lebih, namun angka ini belum terkonfirmasi. Sementara Rohani Vanath dari PKB, juga tak kalah punya peluang. Dengan basis Seram Bagian Timur, dan distribusi suara cukup merata di beberapa kabupaten, bukan tidak mungkin isteri Bupati SBT Abdullah Vanath ini bisa ke istana.

Bagaimana dengan DPRD Maluku? Informasi yang diperoleh koran ini, dari Dapil Buru-Buru Selatan, Golkar, PDIP, dan Demokrat hampir pasti mengirim masing-masing satu kadernya ke Karang Panjang. Di Maluku Tengah, Raja Latuconsina dari Partai Golkar juga hampir dipastikan kembali mempertahankan kursinya. Demokrat di Dapil ini juga demikian, lewat caleg Wellem Wattimena atau Liliani Aitonam.

Kota Ambon, sudah kelihatan Lucky Wattimury dari PDIP, Richard Rahakbauw dari Golkar, Ayu Hasanussy dari Hanura, Max Pentury dari Demokrat, Darul Kutni atau Syarif Hadler dari PPP, Muzakkir Assagaff atau Rostina dari PKS, Gerindra juga punya peluang untuk meraih kursi.

Dari Seram Bagian Barat, Demokrat hampir pasti mengirim kadernya ke DPRD Maluku, Hanura, dan PDIP. SBT hanya Maksum Wailisahalong yang hampir pasti tetap di Karang Panjang. Di Dapil, Tual-Malra-Aru, PDIP dan Golkar juga sangat berpeluang mengirimkan kadernya ke DPRD Maluku. (CR2/M3)

Kamis, 17 April 2014 02:36

Ke Kota Suci Muslim Tunisia

bok masjidSEBAGAI negara terkecil di Afrika Utara, Tunisia justru memiliki banyak situs Islam bersejarah. Sebagian besar di antaranya berada di Kota Kairouan. Berikut laporan wartawan Jawa Pos WAHYU DWI FINTARTO yang berkunjung ke sana akhir bulan lalu.

Begitu minibus yang mengantarkan saya dan rombongan berhenti, bangunan kukuh seperti benteng terlihat di depan kami. Jam digital di gadget Android saya saat itu menunjukkan pukul 09.00. Tetapi, saat kami turun dari minibus, terik matahari langsung menerpa. Untungnya, angin lumayan kencang dan udara musim semi saat itu tidak sampai membuat kami kepanasan.

Bangunan mirip benteng tersebut sesungguhnya merupakan bagian dari tembok kota tua di Kairouan. Itulah kota Islam pertama di Afrika Utara. Pernah menjadi ibu kota kebudayaan Islam (Islamic Cultural Capital), saat ini Kairouan masuk dalam situs UNESCO World Heritage. Atas undangan Tunisia Tourism Board dan Qantas Airways, saya dan lima wartawan lain dari Indonesia mendapat kesempatan berkunjung ke kota tersebut.

Kairouan atau al-Qairawan merupakan ibu kota Provinsi Kairouan. Dari Kota Tunis, ibu kota Tunisia, Kairouan hanya berjarak sekitar 120 kilometer di sebelah selatan dan dapat dicapai tidak sampai satu setengah jam dengan mobil atau minibus.

Kebetulan, dari Kota Tunis yang berada di utara, kami melakukan perjalanan dan menginap dulu di Sousse atau Soussa, kota pantai di timur Tunisia. Dari Sousse, perjalanan darat ke Kairouan yang berjarak sekitar 50 kilometer itu hanya memakan waktu tidak sampai sejam.

Berada di wilayah pedalaman dengan kondisi alam yang kering, Kairouan menjadi salah satu kota terpenting di Tunisia. Kekhalifahan Islam merebut wilayah Tunisia dari kekuasaan Romawi pada awal abad ke-7. Di bawah Dinasti Aghlabiyah (Aghlabid), pemerintahan Islam di bawah Kekhalifahan Abbasiyah yang berpusat di Baghdad, Iraq, Kairouan selanjutnya dibangun dan dijadikan ibu kota pemerintahan.

Kini setelah lebih dari 1.300 tahun, Kairouan menjadi destinasi wisata dan ziarah. Selain warga Tunisia yang 95 persen dari sekitar 10,8 juta penduduknya merupakan muslim Suni, banyak umat Islam dari negara-negara sekitar dan belahan dunia lain yang datang.

“Kairouan adalah kota suci muslim Tunisia,” tutur Oussama Ben Yedder, tour guide yang mendampingi kami. Turis dari Eropa dan Asia biasanya juga singgah ke kota itu saat berkunjung ke negara di timur Aljazair dan barat laut Libya tersebut.

Bangunan dengan tembok mirip benteng setinggi 1,9 meter yang kami kunjungi saat itu merupakan salah satu warisan terpenting dan merupakan bagian dari Kota Kairouan. Itulah Masjid Agung Kairouan atau Masjid Jami’ al-Qairawan al-Kabir. Penduduk setempat dan warga Tunisia sering menyebutnya Masjid Sidi-Uqba atau Masjid Uqba. Penyebutan itu disesuaikan dengan nama pendirinya, yakni Uqba Ibn Nafi.

Masjid yang dibangun pada 670 M atau 50 Hijriah tersebut merupakan salah satu warisan paling kuno dan prestisius di Maghribi. Sebagai masjid pertama di Afrika Utara, Masjid Sidi-Uqba dianggap masterpiece arsitektur dan seni Islam. “Saat ini Masjid Sidi-Uqba tercatat sebagai masjid tertua di Afrika,” jelas Oussama.

Masjid Sidi-Uqba, sebagaimana masjid-masjid lain di beberapa kota di Tunisia, menjadi bagian penting medina (kota tua warisan sejarah Arab Islam). Berlokasi di timur laut medina Kairouan, Masjid Sidi-Uqba terletak di Distrik Houmat al-Jami. Dinding salah satu bagian atau sisi masjid menyatu dengan tembok medina.

Area Masjid Sidi-Uqba memiliki empat sisi yang ukurannya tidak sama. Bagian timur memiliki panjang 127,6 meter atau lebih panjang ketimbang sisi barat (125,2 meter). Bagian selatan area masjid (78 meter) juga lebih panjang daripada sisi utara (72,7 meter). Masjid itu memiliki total luas area sekitar 9 ribu meter persegi.

Di sisi utara area masjid itu, terdapat sebuah menara yang berdiri di tengah-tengah tembok. Menara setinggi 31,5 meter tersebut tak memiliki akses masuk dari luar. Akses masuk hanya bisa dicapai dari dalam. “Menara itu dibangun di era Aghlabid. Saat ini menara tersebut merupakan (menara masjid) yang tertua yang masih berdiri di dunia,” terang Oussama.

Menara tersebut terdiri atas tiga tingkat. Di bagian paling atas, terdapat sebuah kubah kecil. Seperti sebagian bangunan lain di dalam kompleks masjid, menara itu dibangun dari batu susun yang berasal dari puing-puing peninggalan Romawi yang terdapat di sekitar atau di dekat lokasi tersebut. Selain tempat menyerukan azan, menara itu menjadi tempat pemantau. Dari kejauhan, menara tunggal tersebut terlihat seperti mercusuar di pantai atau di laut.

Setelah memasuki salah satu gerbang masjid yang terbuat dari kayu tebal berukir, perhatian saya tertuju ke halaman masjid yang cukup lapang. Bahkan, lebih luas jika dibandingkan dengan bagian dalam masjid yang digunakan untuk salat.

Berukuran sekitar 65 x 50 meter, halaman masjid itu memiliki empat sisi. Di setiap sisi, terdapat satu serambi yang beratap lengkung dan memiliki dua baris tiang. Lantainya menggunakan batu-batu granit yang ditata sedemikian rupa, sedangkan tiang-tiang dan pilar di halaman maupun bagian utama masjid terbuat dari marmer.

Ada sembilan gerbang atau pintu masuk di seluruh area masjid. Enam buah di antaranya secara langsung terhubung dengan halaman masjid. Dua buah berada di sisi timur dan barat ruangan yang digunakan untuk salat. Satu lainnya merupakan pintu menuju ruang salat khusus (maqsura) bagi para pejabat dan tokoh penting yang berada di bagian terdepan.

Pada saat-saat tertentu, halaman masjid juga dipakai untuk salat. “Terutama saat Ramadan. Saat itu, jamaah membeludak hingga mencapai 7 ribu orang. Jadi, halaman masjid dipenuhi jamaah untuk berbuka puasa dan menunaikan salat (wajib maupun tarawih),” ungkap Glouia Khaled, komisioner regional tourism of Kairouan, yang menyambut di halaman masjid beberapa saat setelah kami tiba.

Banyak bagian di dalam masjid yang sangat menarik diperhatikan. Setelah menunaikan salat sunah, saya mencoba mengamati seluruh bagian dalam masjid tersebut. Sangat banyak pilar yang menopang. Pilar-pilar itu membentuk lorong yang sekaligus juga berfungsi sebagai pembatas atau saf salat. Seluruh lantai tertutup karpet. Ruang salat bagi perempuan dibuat terpisah agak ke belakang di bagian barat.

Di tengah-tengah bagian selatan tembok masjid, terdapat mihrab yang terbuat dari marmer. Mihrab itu memiliki panjang sekitar 2 meter; lebar 1,6 meter; dan tinggi 4,5 meter. Sejumlah pustaka menulis, dekorasi dan ornamen di mihrab masjid tersebut berasal dari awal era perkembangan Islam. Dibuat pada 862"863, tempat imam itu disebut-sebut sebagai contoh mihrab tertua di dunia.

Di sebelah kanan mihrab, terdapat sebuah mimbar dari teak wood yang, konon, diimpor dari India. Dilengkapi 11 anak tangga, mimbar tersebut memiliki panjang 3,93 meter dan tinggi 3,31 meter. Banyak ukiran, pahatan, serta ornamen yang menghiasi mimbar yang digunakan setiap salat Jumat maupun salat Id (Idul Fitri dan Idul Adha) itu. Sebagian pihak menyebut mimbar tersebut dibuat para perajin di Kairouan, tetapi beberapa peneliti menyatakan didatangkan dari Baghdad.

Tidak ada yang tahu pasti mana yang benar di antara cerita tersebut. “Yang jelas, itu adalah mimbar tertua di dunia Islam. Dibuat pada abad ke-9, mimbar tersebut dibuat dan dipasang pada era Aghlabid,” jelas Oussama.

Mimbar tersebut bahkan sejak awal hingga kini tetap berada di sebelah kanan mihrab dan selama lebih dari seribu tahun tidak pernah dipindahkan. Saat ini mimbar tersebut ditempatkan di dalam atau diproteksi panel kaca.

Di dekat mimbar, terdapat maqsura. Ruang khusus itu memiliki panjang 8 meter dan lebar 6 meter. Para pejabat dan tokoh penting tidak perlu berdesakan atau bercampur dengan jamaah lain untuk menunaikan salat. Dibuat pada paro pertama abad ke-11, maqsura dilengkapi dinding pemisah dari kayu berukir setinggi 2,8 meter.

Saya juga melihat, di dekat pilar-pilar masjid, terdapat tempat air cukup besar. Sejumlah cawan dan cangkir ditempatkan dalam wadah di sampingnya. Itu sengaja disediakan untuk jamaah. “Silakan minum. Lebih enak dan segar pakai cawan,” tutur seorang penjaga masjid sambil mengambilkan salah satu bejana dari tanah liat tersebut dan menyerahkannya kepada saya.

Setelah melihat seluruh bagian masjid, saya keluar. Jarum jam telah menunjuk pukul 10.30. Meski saat itu hari Jumat, belum ada jamaah salat yang datang. Salat Jumat berlangsung pukul 13.00 hingga pukul 14.00. Karena itu, masjid masih dibuka untuk wisatawan atau peziarah.

Khaled mengungkapkan, Masjid Sidi-Uqba menjadi salah satu tujuan utama wisatawan dan peziarah saat berkunjung ke Kairouan. “Setiap tahun sekitar 260 ribu turis dan peziarah datang ke Kairouan. Mereka pun selalu datang ke sini,” katanya. Jumlah wisatawan itu jauh lebih besar jika dibandingkan dengan penduduk Kairouan yang saat ini berkisar 160 ribu jiwa.

Kabarnya, ada sebagian kalangan di Tunisia yang beranggapan bahwa berziarah ke Masjid Sidi-Uqba memiliki nilai spiritual yang sama penting dengan ziarah ke Tanah Suci. Konon, ada keyakinan bahwa tujuh kali berziarah ke masjid itu (akan mendapat pahala?) setara dengan sekali ziarah atau umrah ke Masjidilharam di Makkah. Wallahu ‘alam.

Di kalangan muslim Tunisia, Kairouan dianggap sebagai kota suci keempat setelah Makkah, Madinah, dan Al-Quds (Jerusalem). Ada banyak tempat religius dan spiritual yang biasa dikunjungi peziarah dan wisatawan.

Kairouan juga pernah digunakan sebagai lokasi syuting film Indiana Jones: Raiders of the Lost Ark saat setting adegan yang menggambarkan suasana jalan di Kota Kairo, Mesir.

Setelah makan siang dengan agak bergegas di restoran La Kasbah Hotel, hotel berbintang lima di sisi lain kota tua, saya dan seorang rekan meminta izin untuk berpisah. Dengan diantar sopir minibus, kami kembali ke Masjid Tukang Cukur untuk mengikuti salat Jumat. Kami beruntung karena belum banyak jamaah yang datang. Azan baru berkumandang pukul 13.00 dan dilanjutkan dengan khotbah. Salat Jumat berakhir pukul 14.00.

Kairouan juga punya julukan “kota dengan tiga ratus masjid”. Saya tidak tahu apakah masjid di Kairouan mencapai 300 buah. Tetapi, dari puncak salah satu bangunan bertingkat, saya dapat melihat pemandangan banyak (ratusan?) kubah putih di seantero kota tua tersebut. Selain di atap masjid, kubah dibangun di bagian atas makam sidi (sebutan untuk tokoh suci atau yang dianggap suci) maupun zaouia (madrasah dan pesantren).

Selain Masjid Sidi-Uqba dan Masjid Tukang Cukur, di Kairouan terdapat Masjid Tiga Pintu yang dibangun pada 866. Sesuai dengan namanya, masjid itu memiliki tiga pintu masuk dengan prasasti ukir kaligrafi. Bangunan bersejarah lain di sana, antara lain, Masjid Ansar (dibangun pada 667, tetapi dirombak total pada 1650) dan Masjid Al Bey (dibangun pada akhir abad ke-17).

Oussama menceritakan, sebagai kota suci, Kairouan memegang teguh tradisi maupun ajaran Islam. Kebanyakan perempuan yang tinggal di kota tersebut mengenakan hijab. Pada masa lampau, komunitas Yahudi juga tinggal di kota itu. Setelah pemeluk Yahudi -yang berjumlah sekitar 5 persen bersama penganut kristiani dan agama lain di seluruh Tunisia- pindah dan bermukim di Jerba, pulau kecil di tenggara negeri itu, saat ini Kairouan merupakan kota muslim Suni.

Warga kota penghasil karpet itu, kata Oussama, dikenal konservatif. Hotel-hotel memang berdiri dan beroperasi di Kairouan.”Tetapi, jangan harap bisa menyaksikan atraksi tari perut seperti yang biasa disuguhkan banyak hotel berbintang di kota-kota lain,” tutur pria yang sudah 10 tahun menggeluti profesi pemandu wisata itu. “Saat malam mulai tiba, kaum perempuan di sini tidak keluar rumah,” lanjutnya. (*)

Kamis, 17 April 2014 02:36

Ke Kota Suci Muslim Tunisia

bok masjidSEBAGAI negara terkecil di Afrika Utara, Tunisia justru memiliki banyak situs Islam bersejarah. Sebagian besar di antaranya berada di Kota Kairouan. Berikut laporan wartawan Jawa Pos WAHYU DWI FINTARTO yang berkunjung ke sana akhir bulan lalu.

Begitu minibus yang mengantarkan saya dan rombongan berhenti, bangunan kukuh seperti benteng terlihat di depan kami. Jam digital di gadget Android saya saat itu menunjukkan pukul 09.00. Tetapi, saat kami turun dari minibus, terik matahari langsung menerpa. Untungnya, angin lumayan kencang dan udara musim semi saat itu tidak sampai membuat kami kepanasan.

Bangunan mirip benteng tersebut sesungguhnya merupakan bagian dari tembok kota tua di Kairouan. Itulah kota Islam pertama di Afrika Utara. Pernah menjadi ibu kota kebudayaan Islam (Islamic Cultural Capital), saat ini Kairouan masuk dalam situs UNESCO World Heritage. Atas undangan Tunisia Tourism Board dan Qantas Airways, saya dan lima wartawan lain dari Indonesia mendapat kesempatan berkunjung ke kota tersebut.

Kairouan atau al-Qairawan merupakan ibu kota Provinsi Kairouan. Dari Kota Tunis, ibu kota Tunisia, Kairouan hanya berjarak sekitar 120 kilometer di sebelah selatan dan dapat dicapai tidak sampai satu setengah jam dengan mobil atau minibus.

Kebetulan, dari Kota Tunis yang berada di utara, kami melakukan perjalanan dan menginap dulu di Sousse atau Soussa, kota pantai di timur Tunisia. Dari Sousse, perjalanan darat ke Kairouan yang berjarak sekitar 50 kilometer itu hanya memakan waktu tidak sampai sejam.

Berada di wilayah pedalaman dengan kondisi alam yang kering, Kairouan menjadi salah satu kota terpenting di Tunisia. Kekhalifahan Islam merebut wilayah Tunisia dari kekuasaan Romawi pada awal abad ke-7. Di bawah Dinasti Aghlabiyah (Aghlabid), pemerintahan Islam di bawah Kekhalifahan Abbasiyah yang berpusat di Baghdad, Iraq, Kairouan selanjutnya dibangun dan dijadikan ibu kota pemerintahan.

Kini setelah lebih dari 1.300 tahun, Kairouan menjadi destinasi wisata dan ziarah. Selain warga Tunisia yang 95 persen dari sekitar 10,8 juta penduduknya merupakan muslim Suni, banyak umat Islam dari negara-negara sekitar dan belahan dunia lain yang datang.

“Kairouan adalah kota suci muslim Tunisia,” tutur Oussama Ben Yedder, tour guide yang mendampingi kami. Turis dari Eropa dan Asia biasanya juga singgah ke kota itu saat berkunjung ke negara di timur Aljazair dan barat laut Libya tersebut.

Bangunan dengan tembok mirip benteng setinggi 1,9 meter yang kami kunjungi saat itu merupakan salah satu warisan terpenting dan merupakan bagian dari Kota Kairouan. Itulah Masjid Agung Kairouan atau Masjid Jami’ al-Qairawan al-Kabir. Penduduk setempat dan warga Tunisia sering menyebutnya Masjid Sidi-Uqba atau Masjid Uqba. Penyebutan itu disesuaikan dengan nama pendirinya, yakni Uqba Ibn Nafi.

Masjid yang dibangun pada 670 M atau 50 Hijriah tersebut merupakan salah satu warisan paling kuno dan prestisius di Maghribi. Sebagai masjid pertama di Afrika Utara, Masjid Sidi-Uqba dianggap masterpiece arsitektur dan seni Islam. “Saat ini Masjid Sidi-Uqba tercatat sebagai masjid tertua di Afrika,” jelas Oussama.

Masjid Sidi-Uqba, sebagaimana masjid-masjid lain di beberapa kota di Tunisia, menjadi bagian penting medina (kota tua warisan sejarah Arab Islam). Berlokasi di timur laut medina Kairouan, Masjid Sidi-Uqba terletak di Distrik Houmat al-Jami. Dinding salah satu bagian atau sisi masjid menyatu dengan tembok medina.

Area Masjid Sidi-Uqba memiliki empat sisi yang ukurannya tidak sama. Bagian timur memiliki panjang 127,6 meter atau lebih panjang ketimbang sisi barat (125,2 meter). Bagian selatan area masjid (78 meter) juga lebih panjang daripada sisi utara (72,7 meter). Masjid itu memiliki total luas area sekitar 9 ribu meter persegi.

Di sisi utara area masjid itu, terdapat sebuah menara yang berdiri di tengah-tengah tembok. Menara setinggi 31,5 meter tersebut tak memiliki akses masuk dari luar. Akses masuk hanya bisa dicapai dari dalam. “Menara itu dibangun di era Aghlabid. Saat ini menara tersebut merupakan (menara masjid) yang tertua yang masih berdiri di dunia,” terang Oussama.

Menara tersebut terdiri atas tiga tingkat. Di bagian paling atas, terdapat sebuah kubah kecil. Seperti sebagian bangunan lain di dalam kompleks masjid, menara itu dibangun dari batu susun yang berasal dari puing-puing peninggalan Romawi yang terdapat di sekitar atau di dekat lokasi tersebut. Selain tempat menyerukan azan, menara itu menjadi tempat pemantau. Dari kejauhan, menara tunggal tersebut terlihat seperti mercusuar di pantai atau di laut.

Setelah memasuki salah satu gerbang masjid yang terbuat dari kayu tebal berukir, perhatian saya tertuju ke halaman masjid yang cukup lapang. Bahkan, lebih luas jika dibandingkan dengan bagian dalam masjid yang digunakan untuk salat.

Berukuran sekitar 65 x 50 meter, halaman masjid itu memiliki empat sisi. Di setiap sisi, terdapat satu serambi yang beratap lengkung dan memiliki dua baris tiang. Lantainya menggunakan batu-batu granit yang ditata sedemikian rupa, sedangkan tiang-tiang dan pilar di halaman maupun bagian utama masjid terbuat dari marmer.

Ada sembilan gerbang atau pintu masuk di seluruh area masjid. Enam buah di antaranya secara langsung terhubung dengan halaman masjid. Dua buah berada di sisi timur dan barat ruangan yang digunakan untuk salat. Satu lainnya merupakan pintu menuju ruang salat khusus (maqsura) bagi para pejabat dan tokoh penting yang berada di bagian terdepan.

Pada saat-saat tertentu, halaman masjid juga dipakai untuk salat. “Terutama saat Ramadan. Saat itu, jamaah membeludak hingga mencapai 7 ribu orang. Jadi, halaman masjid dipenuhi jamaah untuk berbuka puasa dan menunaikan salat (wajib maupun tarawih),” ungkap Glouia Khaled, komisioner regional tourism of Kairouan, yang menyambut di halaman masjid beberapa saat setelah kami tiba.

Banyak bagian di dalam masjid yang sangat menarik diperhatikan. Setelah menunaikan salat sunah, saya mencoba mengamati seluruh bagian dalam masjid tersebut. Sangat banyak pilar yang menopang. Pilar-pilar itu membentuk lorong yang sekaligus juga berfungsi sebagai pembatas atau saf salat. Seluruh lantai tertutup karpet. Ruang salat bagi perempuan dibuat terpisah agak ke belakang di bagian barat.

Di tengah-tengah bagian selatan tembok masjid, terdapat mihrab yang terbuat dari marmer. Mihrab itu memiliki panjang sekitar 2 meter; lebar 1,6 meter; dan tinggi 4,5 meter. Sejumlah pustaka menulis, dekorasi dan ornamen di mihrab masjid tersebut berasal dari awal era perkembangan Islam. Dibuat pada 862"863, tempat imam itu disebut-sebut sebagai contoh mihrab tertua di dunia.

Di sebelah kanan mihrab, terdapat sebuah mimbar dari teak wood yang, konon, diimpor dari India. Dilengkapi 11 anak tangga, mimbar tersebut memiliki panjang 3,93 meter dan tinggi 3,31 meter. Banyak ukiran, pahatan, serta ornamen yang menghiasi mimbar yang digunakan setiap salat Jumat maupun salat Id (Idul Fitri dan Idul Adha) itu. Sebagian pihak menyebut mimbar tersebut dibuat para perajin di Kairouan, tetapi beberapa peneliti menyatakan didatangkan dari Baghdad.

Tidak ada yang tahu pasti mana yang benar di antara cerita tersebut. “Yang jelas, itu adalah mimbar tertua di dunia Islam. Dibuat pada abad ke-9, mimbar tersebut dibuat dan dipasang pada era Aghlabid,” jelas Oussama.

Mimbar tersebut bahkan sejak awal hingga kini tetap berada di sebelah kanan mihrab dan selama lebih dari seribu tahun tidak pernah dipindahkan. Saat ini mimbar tersebut ditempatkan di dalam atau diproteksi panel kaca.

Di dekat mimbar, terdapat maqsura. Ruang khusus itu memiliki panjang 8 meter dan lebar 6 meter. Para pejabat dan tokoh penting tidak perlu berdesakan atau bercampur dengan jamaah lain untuk menunaikan salat. Dibuat pada paro pertama abad ke-11, maqsura dilengkapi dinding pemisah dari kayu berukir setinggi 2,8 meter.

Saya juga melihat, di dekat pilar-pilar masjid, terdapat tempat air cukup besar. Sejumlah cawan dan cangkir ditempatkan dalam wadah di sampingnya. Itu sengaja disediakan untuk jamaah. “Silakan minum. Lebih enak dan segar pakai cawan,” tutur seorang penjaga masjid sambil mengambilkan salah satu bejana dari tanah liat tersebut dan menyerahkannya kepada saya.

Setelah melihat seluruh bagian masjid, saya keluar. Jarum jam telah menunjuk pukul 10.30. Meski saat itu hari Jumat, belum ada jamaah salat yang datang. Salat Jumat berlangsung pukul 13.00 hingga pukul 14.00. Karena itu, masjid masih dibuka untuk wisatawan atau peziarah.

Khaled mengungkapkan, Masjid Sidi-Uqba menjadi salah satu tujuan utama wisatawan dan peziarah saat berkunjung ke Kairouan. “Setiap tahun sekitar 260 ribu turis dan peziarah datang ke Kairouan. Mereka pun selalu datang ke sini,” katanya. Jumlah wisatawan itu jauh lebih besar jika dibandingkan dengan penduduk Kairouan yang saat ini berkisar 160 ribu jiwa.

Kabarnya, ada sebagian kalangan di Tunisia yang beranggapan bahwa berziarah ke Masjid Sidi-Uqba memiliki nilai spiritual yang sama penting dengan ziarah ke Tanah Suci. Konon, ada keyakinan bahwa tujuh kali berziarah ke masjid itu (akan mendapat pahala?) setara dengan sekali ziarah atau umrah ke Masjidilharam di Makkah. Wallahu ‘alam.

Di kalangan muslim Tunisia, Kairouan dianggap sebagai kota suci keempat setelah Makkah, Madinah, dan Al-Quds (Jerusalem). Ada banyak tempat religius dan spiritual yang biasa dikunjungi peziarah dan wisatawan.

Kairouan juga pernah digunakan sebagai lokasi syuting film Indiana Jones: Raiders of the Lost Ark saat setting adegan yang menggambarkan suasana jalan di Kota Kairo, Mesir.

Setelah makan siang dengan agak bergegas di restoran La Kasbah Hotel, hotel berbintang lima di sisi lain kota tua, saya dan seorang rekan meminta izin untuk berpisah. Dengan diantar sopir minibus, kami kembali ke Masjid Tukang Cukur untuk mengikuti salat Jumat. Kami beruntung karena belum banyak jamaah yang datang. Azan baru berkumandang pukul 13.00 dan dilanjutkan dengan khotbah. Salat Jumat berakhir pukul 14.00.

Kairouan juga punya julukan “kota dengan tiga ratus masjid”. Saya tidak tahu apakah masjid di Kairouan mencapai 300 buah. Tetapi, dari puncak salah satu bangunan bertingkat, saya dapat melihat pemandangan banyak (ratusan?) kubah putih di seantero kota tua tersebut. Selain di atap masjid, kubah dibangun di bagian atas makam sidi (sebutan untuk tokoh suci atau yang dianggap suci) maupun zaouia (madrasah dan pesantren).

Selain Masjid Sidi-Uqba dan Masjid Tukang Cukur, di Kairouan terdapat Masjid Tiga Pintu yang dibangun pada 866. Sesuai dengan namanya, masjid itu memiliki tiga pintu masuk dengan prasasti ukir kaligrafi. Bangunan bersejarah lain di sana, antara lain, Masjid Ansar (dibangun pada 667, tetapi dirombak total pada 1650) dan Masjid Al Bey (dibangun pada akhir abad ke-17).

Oussama menceritakan, sebagai kota suci, Kairouan memegang teguh tradisi maupun ajaran Islam. Kebanyakan perempuan yang tinggal di kota tersebut mengenakan hijab. Pada masa lampau, komunitas Yahudi juga tinggal di kota itu. Setelah pemeluk Yahudi -yang berjumlah sekitar 5 persen bersama penganut kristiani dan agama lain di seluruh Tunisia- pindah dan bermukim di Jerba, pulau kecil di tenggara negeri itu, saat ini Kairouan merupakan kota muslim Suni.

Warga kota penghasil karpet itu, kata Oussama, dikenal konservatif. Hotel-hotel memang berdiri dan beroperasi di Kairouan.”Tetapi, jangan harap bisa menyaksikan atraksi tari perut seperti yang biasa disuguhkan banyak hotel berbintang di kota-kota lain,” tutur pria yang sudah 10 tahun menggeluti profesi pemandu wisata itu. “Saat malam mulai tiba, kaum perempuan di sini tidak keluar rumah,” lanjutnya. (*)

Kamis, 17 April 2014 02:36

KECELAKAAN

Kapal VerySebuah operasi penyelamatan berlangsung Rabu pagi (16/4) menyusul sinyal bahaya yang diterima dari salah satu kapal yang mengangkut sekitar 450 penumpang di lepas pantai Korea Selatan. Hingga kini, sedikitnya dua orang tewas dan lebih dari 100 lainnya masih belum ditemukan setelah feri yang membawa 476 orang itu terbalik dan tenggelam di lepas pantai tersebut.

Laporan setempat mengatakan, sejauh ini 368 orang telah diselamatkan. Operasi penyelamatan besar ini sedang berlangsung dan melibatkan sekitar 34 kapal angkatan laut, penjaga pantai, kapal sipil, dan 18 helikopter.

Kapal feri yang membawa banyak siswa sekolah ini, sedang melakukan perjalanan dari pelabuhan Incheon, ke sebuah pulau di selatan Jeju. Gambar-gambar menunjukkan kapal feri dalam keadaan miring dan sebagian besar terendam, dengan hanya sebagian kecil dari lambung kapal yang terlihat.

Menurut laman BBC, Rabu (16/4) sebuah foto menunjukkan tim penyelamat menarik remaja dari jendela kabin kapal yang tenggelam. Beberapa dari mereka melompat ke laut saat kapal mulai tenggelam. “Beberapa penumpang diselamatkan dan dijemput oleh kapal-kapal komersial yang berada di dekatnya. Para penyelam dari Angkatan Laut kini mencari orang-orang belum ditemukan,” kata para pejabat berwenang.

Para penumpang kapal sebesar 6.825 ton tersebut sebagian besar merupakan siswa Sekolah Menengah Atas. Di dalam kapal tersebut juga terdapat sekitar 150 mobil. (esy/jpnn)

Kamis, 17 April 2014 02:15

kejati-malukuAMBON, AE— Jamak sudah kasus tak pernah tuntas di tangan Kejaksaan Tinggi Maluku. Kasus PNS fiktif, dugaan korupsi tiga jembatan yang dilaporkan dalam duga kasus di Kabupaten Seram Bagian Timur, termasuk kasus RSUD Haulussy, belum juga ditindaklanjuti. Banyak alasan disampaikan, janji justeru kerap diobral.

“Saya lihat jaksa yang menangani kasus ini mulai ‘masuk angin’ dan mulai cenderung tidak objektif dalam menyikapi fakta-fakta hukum yang ada,” tegas Koordinator MDW, Mohammad Ikhsan Tualeka, kepada Ambon Ekspres tadi malam.

Padahal menurut Tualeka, terungkapnya kasus RSUD Haulussy ini di publik sudah cukup lama, dan kejaksaan juga sudah menegaskan komitmennya dalam menuntaskan kasus ini, namun hingga saat ini tidak ada progres yang signifikan.

“Dalam banyak kasus modus kompromi dan penyelesaian kasus untuk akhirnya tidak dilimpahkan ke pengadilan bisa terjadi. Pihak-pihak yang dibidik aparat hukum kemudian dengan berbagai cara melakukan komunikasi dengan penyidik yang muaranya agar kasus tidak diproses lebih jauh, mungkin saja modus yang sama sedang diterpakan pada kasus RSUD,” urai Tualeka.

Menurutnya hal ini bisa saja terjadi, karena indikasi kearah itu sangat jelas.”Apa alasanya sehingga pihak-pihak yang diduga terkait kasus ini belum juga dipanggil dan diperiksa, padahal fakta kerugian pada keungan negara sulit untuk ditepis,” kata Tualeka.

Hal senada diungkapkan Koordinator MDV, Rizal Sangadji. Kata dia,  kasus ini jika sudah ditemukan bukti awal yang cukup, maka sudah seharusnya jaksa melakukan pengembangan kasus ini ke tahap penyidikan. ‘’Kalau ada upaya untuk menghambat pengembangan kasus ini, berarti ada indikasi memperlemah proses hukum,’’ kata dia.

Agar publik tidak berspekulasi macam-macam kepada jaksa, jaksa harus segera mengembangkan kasus ini ke tahap penyidikan untuk kepentingan kepastian hukum dapat secepatnya di peroleh oleh publik. ‘’Saya juga berharap jaksa dalam penanganan kasus ini bersikap netral dan profesional. Jangan ada sikap terbelah apalagi dalam melindungi koruptor dengan melemahkan proses hukum yang sementara berjalan,’’ pungkas dia.(M1)

Most Views