Breaking News
Tantangan Buat Dirreskrimsus - Sabtu, 18 Oktober 2014 01:12
Sehari, Ledakan Kompor Bakar 3 Rumah - Kamis, 09 Oktober 2014 02:38
Tolak Kembalikan Mobdin, Parpol Mesti Disurati - Selasa, 07 Oktober 2014 04:37
Polisi Dalami Dugaan BBM Oplosan - Sabtu, 27 September 2014 01:21
Pengguna Jalan Resah, Polantas Seenaknya Menindak - Selasa, 23 September 2014 06:19
30 Menit 7 Rumah Hangus - Sabtu, 20 September 2014 02:41
Kepala BRI Tantang Dikor Malteng - Senin, 08 September 2014 00:26
Agar Orang Tidak Salah Pilih Guru Privat - Senin, 01 September 2014 01:47
536 Guru K2 Berpeluang Diangkat 2014 - Selasa, 26 Agustus 2014 22:26
HIPMI Siap Bantu UMKM - Senin, 25 Agustus 2014 01:16
Sarjana Lulusan Maluku Terganjal Syarat CPNS - Kamis, 21 Agustus 2014 01:16
Maluku Siaga Satu - Kamis, 21 Agustus 2014 01:16
Golkar Maluku Butuh Regenerasi - Kamis, 21 Agustus 2014 01:16
Disdikpora Tunggak Tunjangan Sertifikasi - Kamis, 21 Agustus 2014 01:16
Meraba Peluang di Ketatnya Persaingan - Rabu, 20 Agustus 2014 00:36
Hario Kecik, yang Dilupakan - Rabu, 20 Agustus 2014 00:35
Waspada Bahaya Dari Laut - Rabu, 20 Agustus 2014 00:35

Rusia Vs Amerika di Perang Suriah Fitur

  • Sabtu, Sep 07 2013
  • Ditulis oleh 
  • ukuran huruf perkecil besar tulisan perbesar ukuran huruf

us-vs-russiaMoskow, AE— Pemerintah Rusia mengingatkan Amerika Serikat untuk tidak menyerang fasilitas penyimpanan senjata kimia milik Suriah. Hal ini disampaikan Rusia di tengah ancaman AS untuk melancarkan serangan militer ke Suriah.

Kementerian Luar Negeri Rusia mengkhawatirkan fasilitas-fasilitas infrastruktur militer tempat penyimpanan senjata kimia Suriah bisa menjadi target serangan militer AS. “Dalam hal ini, kami mengingatkan otoritas AS dan sekutu-sekutu mereka untuk tidak menyerang fasilitas kimia dan wilayah-wilayah sekitarnya,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (6/9).

“Tindakan tersebut akan menjadi bahaya baru dalam perkembangan tragis krisis Suriah,” demikian disampaikan. Kementerian Rusia pun mengingatkan, serangan itu akan memicu pelepasan bahan-bahan yang sangat beracun.

Kementerian pun mengingatkan, para militan bisa saja meraih akses ke senjata kimia Suriah itu akibat serangan militer tersebut. “Pengeboman AS atas fasilitas penyimpanan bahan kimia Al Muthanna di Irak menyebabkan kontaminasi serius ke wilayah sekitar pada tahun 1991,” demikian statemen kementerian.

Retorika perang terhadap Suriah kian gencar setelah oposisi Suriah menuding pasukan rezim Presiden Bashar al-Assad melakukan serangan kimia di basis-basis pemberontak dekat Damaskus. Oposisi menyebut, lebih dari 1.300 orang tewas dalam serangan kimia pada 21 Agustus tersebut.

Tuduhan ini berulang kali dibantah rezim Assad. Pemerintah Suriah balik menuding bahwa para pemberontaklah yang bertanggung jawab atas serangan kimia itu. Tujuannya, untuk mendorong aksi militer internasional terhadap rezim Assad.
Rusia sendiri telah menggerakan sebuah kapal perang  menuju wilayah Suriah. Dilaporkan bahwa kapal perang ini membawa muatan khusus yang ditujukan bagi negara Arab tersebut.

Kapal berukuran besar bernama Nikolai Filchenkov itu, akan meninggalkan pelabuhan Sevastopol di Ukraina pada Jumat (6/9) waktu setempat dan berlayar menuju ke pelabuhan Novorossiisk di Laut Hitam, Rusia. Dari pelabuhan tersebut, kapal selanjutnya akan berlayar menuju wilayah perairan Suriah.

Informasi ini disampaikan oleh kantor berita Rusia, Interfax yang mengutip seorang sumber dari pusat komando Angkatan Laut Rusia yang ada di Saint Petersburg.
“Kapal ini akan berlabuh Novorossiisk, di mana kapal akan memasukkan muatan khusus dan kemudian kembali berlayar ke tujuan yang ditentukan di wilayah Mediterania sebelah timur,” demikian pernyataan sumber tersebut, seperti dilansir AFP, Jumat (6/9).

Namun sumber Rusia itu tidak menyebutkan lebih jelas soal muatan khusus yang dibawa kapal tersebut. Sepanjang krisis Suriah, Rusia memang terlihat selalu menjaga kehadirannya di wilayah Mediterania.
Bahkan dalam beberapa hari terakhir, Rusia menempatkan sejumlah armada lautnya di wilayah dekat Suriah. Kapal penghancur milik Rusia, Smetlivy dikabarkan dalam waktu dekat akan ikut bergabung dengan kapal penghancur Nastoichivy, yang sudah sejak lama ada di wilayah tersebut.

Kapal anti-kapal selam milik Rusia yang bernama Admiral Panteleyev, juga mulai digerakkan ke wilayah yang sama. Sedangkan kapal-kapal lain yang sudah ditempatkan di wilayah Mediterania antara lain kapal perang Neustrashimy, kapal Alexander Shabalin, kapal Admiral Nevelsky dan kapal Peresvet. Diperkirakan Rusia masih akan mengirimkan lebih banyak lagi kapal perang ke wilayah tersebut.

Sedangkan Amerika Serikat yang belakangan ini gencar menyerukan aksi militer ke Suriah, juga telah menempatkan sejumlah armada Angkatan Lautnya di wilayah strategis dekat Suriah. Diduga, aksi militer AS ke Suriah nantinya akan diluncurkan dari laut.

Sementara itu, para menteri pertahanan Uni Eropa menyimpulkan, bukti-bukti memang menunjukkan rezim Presiden Bashar al-Assad telah menggunakan senjata kimia dalam serangan di dekat Damaskus bulan lalu. “Ada banyak tanda bahwa rezim menggunakan senjata itu (kimia),” kata Menteri Pertahanan Lithuania Juozas Olekas dalam pertemuan para menteri Uni Eropa yang digelar di Vilnius, Lithuania seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (6/9).

Sementara itu, pemerintah Prancis mendesak Uni Eropa untuk bersama-sama mengecam serangan kimia di Suriah yang terjadi pada 21 Agustus lalu. Hal tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius. Uni Eropa yang beranggotakan 28 negara itu, juga diharapkan untuk menyatakan, bahwa berdasarkan bukti yang telah disampaikan pemerintah Prancis, rezim Assad telah mendalangi serangan kimia itu.

Pertemuan para menteri Uni Eropa ini digelar di tengah meningkatnya retorika perang terhadap Suriah. Retorika ini kian gencar setelah oposisi Suriah menuding pasukan rezim Assad melakukan serangan kimia di basis-basis pemberontak dekat Damaskus. Oposisi menyebut, lebih dari 1.300 orang tewas dalam serangan kimia itu.

Tuduhan ini berulang kali dibantah rezim Assad. Pemerintah Suriah balik menuding bahwa para pemberontaklah yang bertanggung jawab atas serangan kimia itu. Tujuannya, untuk mendorong aksi militer internasional terhadap rezim Assad.(dtc)

Baca 1829 kali
Taksir item ini
(0 pilihan)
Diterbitkan di Headline

Leave your comments

Post comment as a guest

0
terms and condition.
  • No comments found

Most Views



Pengunjung

Kami memiliki 497 tamu dan tidak ada anggota online